Rek Ayo Rek: Lirik Lagu Khas Surabaya

by ADDMIN 38 views
Iklan Headers

Halo guys! Siapa sih di sini yang nggak kenal sama lagu "Rek Ayo Rek"? Lagu ini tuh udah kayak anthem banget buat kota Surabaya. Dengerin lagu ini tuh langsung kebayang suasana kota Pahlawan yang ramai, semangat anak mudanya, dan tentu aja, kelezatan kulinernya. Nah, buat kalian yang penasaran atau pengen nyanyiin bareng, yuk kita bedah bareng lirik lagu "Rek Ayo Rek" ini! Dijamin bikin makin cinta sama Surabaya!

Sejarah Singkat Lagu "Rek Ayo Rek"

Sebelum kita nyanyiin, ada baiknya kita tahu sedikit nih soal lagu "Rek Ayo Rek" ini. Lagu ini diciptakan oleh Ismail Marzuki, seorang komponis legendaris Indonesia. Konon, lagu ini dibuat sebagai ungkapan kecintaan Ismail Marzuki terhadap Surabaya. Jadi, kalau kalian dengar lagu ini, bayangin aja Ismail Marzuki lagi jalan-jalan di Surabaya, terus terinspirasi bikin lagu yang catchy ini. Cool banget, kan? Lagu ini pertama kali dipopulerkan sekitar tahun 1960-an dan sejak itu, "Rek Ayo Rek" jadi salah satu lagu daerah Jawa Timur yang paling dikenal, terutama identik banget sama Surabaya. Makanya, nggak heran kalau sering banget diputar di berbagai acara, mulai dari acara kebudayaan, perayaan kota, sampai jadi lagu wajib di sekolah-sekolah di Surabaya. So iconic!

Lirik Lagu "Rek Ayo Rek"

Oke, siap-siap ya guys! Ini dia lirik lagu "Rek Ayo Rek" yang bikin kangen Surabaya:

Rek ayo rek, mlaku-mlaku nang Tunjungan Rek ayo rek, mlaku-mlaku nang Tunjungan Ojo lali, rek, tuku gulo tuku kloso Ojo lali, lek, tuku gulo tuku kloso

Ayo ngguyu, ayo ngguyu, bareng-bareng Ayo ngguyu, ayo ngguyu, bareng-bareng Yen wis tuo, ayo ngguyu, bareng-bareng Yen wis tuo, ayo ngguyu, bareng-bareng

Yen lungo, ojo lali karo bojone wong Yen lungo, ojo lali karo bojone wong Yen kepentung, ojo lali karo tangane Yen kepentung, ojo lali karo tangane

Ojo kesusu, ojo kesusu, mengko gekengono Ojo kesusu, ojo kesusu, mengko gekengono Ojo gumunan, ojo gumunan, menowo rejekimu Ojo gumunan, ojo gumunan, menowo rejekimu

*Ayo ngono, ayo ngono, ayo ngono...

Makna Mendalam di Balik Lirik "Rek Ayo Rek"

Nah, setelah kita lihat liriknya, apa sih makna yang bisa kita ambil dari lagu "Rek Ayo Rek" ini? Ternyata, di balik lirik yang terdengar sederhana dan riang, ada pesan moral yang cukup dalam, lho. Mari kita bedah satu per satu baitnya, guys!

Bait "Rek Ayo Rek, Mlaku-mlaku Nang Tunjungan"

Bait pertama ini langsung mengajak kita buat jalan-jalan ke Tunjungan. Tunjungan ini kan salah satu ikon kota Surabaya yang bersejarah. Dulu, Tunjungan ini merupakan pusat keramaian, tempat orang berkumpul, berdagang, dan bersosialisasi. Ajakan untuk mlaku-mlaku (jalan-jalan) di sini bukan sekadar ajakan jalan-jalan biasa, tapi bisa diartikan sebagai ajakan untuk menghidupkan kembali semangat kebersamaan dan keramaian kota. Di era modern ini, Tunjungan memang sudah banyak berubah, tapi semangatnya tetap ada. Lagu ini seolah mengingatkan kita untuk tetap menjaga dan melestarikan tempat-tempat bersejarah seperti Tunjungan.

Bait "Ojo Lali, Lek, Tuku Gulo Tuku Kloso"

Bait selanjutnya, "Ojo lali, lek, tuku gulo tuku kloso" (Jangan lupa, nak, beli gula beli tikar). Ini bisa diartikan sebagai pengingat untuk tidak melupakan tradisi dan kebiasaan. Dulu, gula dan tikar adalah barang-barang kebutuhan pokok yang umum diperjualbelikan. Maknanya bisa lebih luas lagi, yaitu mengingatkan agar kita tidak melupakan akar kita, budaya kita, dan hal-hal sederhana yang penting dalam kehidupan. Simple but meaningful, kan?

Bait "Ayo Ngguyu, Ayo Ngguyu, Bareng-bareng"

Nah, bait ini yang paling bikin happy! "Ayo ngguyu, ayo ngguyu, bareng-bareng" (Ayo tertawa, ayo tertawa, bersama-sama). Pesan di sini jelas banget: kebahagiaan itu lebih indah kalau dibagi bersama. Tawa yang keluar dari hati, apalagi kalau dilakukan bersama orang-orang terdekat, pasti rasanya beda. Bait ini juga menambahkan "Yen wis tuo, ayo ngguyu, bareng-bareng" (Kalau sudah tua, ayo tertawa bersama-sama). Ini menunjukkan bahwa kebersamaan itu penting di setiap fase kehidupan, bahkan sampai tua nanti. Friendship goals banget!

Bait "Yen Lungo, Ojo Lali Karo Bojone Wong"

Bait ini mungkin terdengar agak nyeleneh, tapi maknanya penting banget, guys. "Yen lungo, ojo lali karo bojone wong" (Kalau pergi, jangan lupa sama istri orang). Tentu saja, ini bukan berarti kita boleh macam-macam ya! Maksudnya adalah agar kita selalu menjaga batas dan norma dalam berinteraksi dengan orang lain. Menghargai status perkawinan orang lain adalah salah satu bentuk sopan santun dan etika. Ini mengingatkan kita untuk selalu menjaga kehormatan diri dan orang lain, serta tidak merusak hubungan orang lain. Respect is key, guys!

Bait "Yen Kepentung, Ojo Lali Karo Tangane"

Selanjutnya, "Yen kepentung, ojo lali karo tangane" (Kalau terpukul, jangan lupa sama tangannya). Bait ini bisa diartikan sebagai pengingat bahwa setiap perbuatan ada akibatnya. Kalau kita berbuat baik, tentu akan ada kebaikan yang kembali. Sebaliknya, kalau kita berbuat buruk, ya harus siap menerima konsekuensinya. Tangan yang memukul adalah tangan kita sendiri, yang berarti bahwa kita sendirilah yang bertanggung jawab atas tindakan kita. Think before you act!

Bait "Ojo Kesusu, Ojo Kesusu, Mengko Gekengono"

"Ojo kesusu, ojo kesusu, mengko gekengono" (Jangan terburu-buru, jangan terburu-buru, nanti terjadi sesuatu). Pesan di sini adalah tentang pentingnya kesabaran dan kehati-hatian. Terburu-buru dalam mengambil keputusan atau bertindak seringkali bisa menimbulkan masalah. Lebih baik berpikir matang-matang dan bertindak dengan tenang agar hasilnya baik. Slow and steady wins the race, kayak kata pepatah Inggris gitu, guys!

Bait "Ojo Gumunan, Ojo Gumunan, Menowo Rejekimu"

Terakhir, "Ojo gumunan, ojo gumunan, menowo rejekimu" (Jangan heran, jangan heran, kalau itu rezekimu). Bait ini mengajarkan kita untuk tidak boleh sombong atau merasa paling hebat. Rezeki itu datangnya dari Tuhan Yang Maha Esa, dan kita tidak perlu heran jika rezeki itu datang dalam berbagai bentuk dan cara yang tak terduga. Yang penting adalah selalu bersyukur dan berusaha. Humility is a virtue!

Kenapa Lagu "Rek Ayo Rek" Begitu Ikonik di Surabaya?

Lagu "Rek Ayo Rek" ini bukan sekadar lagu. Dia adalah simbol dari semangat dan budaya Surabaya. Kenapa bisa begitu? Pertama, karena liriknya yang menggunakan bahasa Surabayaan asli, yang langsung mengena di hati warganya. Penggunaan kata "rek" (kependekan dari "arek" yang berarti anak) dan "mlaku-mlaku" (jalan-jalan) itu sangat khas. Kedua, seperti yang sudah kita bahas, maknanya yang relatable dan penuh nasihat kehidupan membuat lagu ini evergreen. Nggak lekang oleh waktu. Ketiga, lagu ini sering banget dijadikan soundtrack atau pengiring berbagai kegiatan yang berhubungan dengan Surabaya, sehingga otomatis tertanam di benak masyarakat. Mulai dari acara festival seni, pertunjukan tari, sampai acara perayaan ulang tahun kota. It’s part of Surabaya’s identity!

Tunjungan: Saksi Bisu Sejarah Surabaya

Seperti yang sudah disinggung di liriknya, Tunjungan adalah bagian penting dari lagu ini. Jalan Tunjungan ini punya sejarah panjang di Surabaya. Dulunya, ini adalah pusat bisnis dan hiburan. Banyak bangunan tua bersejarah di sana yang masih berdiri kokoh sampai sekarang, seperti Gedung Siola dan Tunjungan Plaza (walaupun sudah modern). Jalan Tunjungan ini juga jadi saksi bisu perjuangan Arek-Arek Suroboyo di masa lalu. Jadi, kalau kalian ke Surabaya, wajib banget jalan-jalan ke Tunjungan, rasakan atmosfernya, dan bayangin gimana serunya kota ini zaman dulu sambil nyanyiin lagu "Rek Ayo Rek". Definitely a must-visit!

Bahasa Gaul Surabaya dalam Lagu

Penggunaan bahasa gaul Surabaya dalam lagu ini bikin dia makin spesial. Kata "rek" itu sendiri adalah sapaan akrab yang sering dipakai di Surabaya. Selain itu, ada juga kata "mlaku-mlaku", "gulo" (gula), "kloso" (tikar), "bojone wong" (istri orang), "kepentung" (terpukul), "kesusu" (terburu-buru), dan "gumunan" (heran). Semua kata ini sangat familiar di telinga orang Surabaya. Penggunaan bahasa daerah yang kuat ini nggak cuma bikin lagu jadi unik, tapi juga memperkuat rasa memiliki dan kecintaan terhadap identitas lokal. It’s a linguistic treasure!

Kesimpulan: Lebih dari Sekadar Lagu

Jadi, guys, "Rek Ayo Rek" ini bukan cuma sekadar lagu daerah biasa. Dia adalah cerminan jiwa dan semangat kota Surabaya. Lagu ini mengajarkan kita tentang kebersamaan, pentingnya menjaga tradisi, bersikap bijak, dan selalu bersyukur. Liriknya yang sederhana namun mendalam, dibalut dengan melodi yang ceria, membuat lagu ini terus hidup dan dicintai. Kalau kalian dengar lagu ini, semoga kalian bisa merasakan kehangatan dan semangat Arek-Arek Suroboyo. Let’s keep the spirit of Surabaya alive! Jangan lupa nyanyiin lagu ini kapanpun dan dimanapun ya, guys!